Total Tayangan Halaman

Rabu, 06 Juli 2011

Mantan Ketua STAIN Datokarama Palu Meninggal Dunia



BIODATA PENULIS


 
H.M. Noor Sulaiman Pettalongi, kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, 5 September 1944, adalah Staf Pengajar dan Guru Besar pada STAIN Datokarama Palu dan Prog­ram Pascasarjana IAIN Alauddin dan Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Kelas Palu.
Sarjana Muda (BA) diraih di Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ternate (1969), Sarjana S1 di IAIN Sunan Ampel Malang (1974), dan meraih gelar Doktor di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (2000).
Putra dari pasangan A. Sulaiman Pettalongi dan Hj. Chadijah Daeng Massenang ini adalah alumni dari Madrasah Ibtidaiyah dan Mu’allimin Alkhairaat Palu, dan sering mendampingi Sayid Idrus bin Salim Aljufrie “Guru Tua” dalam perjalanan dakwahnya ke berbagai wilayah (1960-1964).
Beberapa jabatan yang pernah diembannya diantaranya adalah Kepala Madrasah Alkhairaat (1966-1968), Kepala Madrasah Mu’allimin (1969-1972), Kepala Madrasah Aliyah Alkhairaat (1974-1977), Kepala PP Alkhairaat di Ternate (1987-1994), Direktur Akademi Bahasa Asing (1981-1982), Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin di Ternate (1988-1994), Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palu (1995-1997), Ketua STAIN Datokarama Palu (1997-2002), dan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Sulawesi Tengah (2002-2004).
Dalam bidang sosial kemasyarakatan, pernah menjabat Wakil Ketua MUI Maluku Utara (1987-1994), Ketua MDI Maluku Utara (1982-1987), Anggota DPRD Kabupaten Maluku Utara (1977-1987), Ketua Dewan Masjid Kabupaten Maluku Utara (1982-1994), Sekretaris Umum MUI Provinsi Sulawesi Tengah (1997-2002). Di Organisasi Alkhairaat, pernah menjabat sebagai  Sekretaris Komwil Alkhairaat Maluku Utara-Irian Jaya (1982-1994), Ketua PB Alkhairaat (1996-2001), dan Sekretaris Dewan Pakar Alkhairaat (2001-2006).
Beberapa karyanya tersebar dalam bentuk buku dan artikel. Di antaranya adalah Biografi Sayid Idrus bin Salim Aljufrie: Pendiri Perguruan Islam Alkhairaat (1988), Alkhairaat dan Perubahan SosialBudaya Masyarakat Kaili (2000), Islam di Tanah Kaili dari Datokarama ke Guru Tua (2004), Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufrie "Guru Tua": Modernisasi Pendidikan dan Dakwah di Tanah Kaili [1930-1969] (2005), Kepemimpinan Perempuan (Telaah Tekstual dan Kontekstual Hadis Nabi dalam Perspektif Gender) (Nopember 2005), Kumpulan Hadis-hadis Pilihan: Tekstual dan Kontekstual (2010), dan juga menterjemahkan buku Al-Âdâb al-Nabawî.
Menikah dengan Hj. Fatmah H. Mongki pada tahun 1970 dan dikaruniai empat orang anak: Ahmad Fahmi, Muhammad Fadli, Andi Humairah dan Andi Zuchairiny.
Penulis Buku Kuning Antologi Ilmu Hadis Itu Telah Berpulang



Palu. Wata STAIN. Sore itu saya hendak menuju rumah pemiliknya yang begitu dikagumi mulai dari mahasiswa, anak-anaknya dan masyarakat kelurahan Kampung Baru bahkan di Palu sangat dikenal sebagai penceramah yang sehari-hari bekerja untuk mengurus ummat.pagar rumah tertutup tetapi tidak digembok, pintu bagian samping rumah itu terbuka dengan nekat agar mendapatkan informasi tentang figur satu ini mencoba masuk kerumahnya. disamping diding rumah tulisan turut Berduka cita atas Nama Mentri Kelautan dan perikanan DR. Fadel Muhammad masih menghiasi rumah itu semejak ditinggal untuk selama lamanya sang Aba kata anak-anak memangilnya. Untungnya saat itu ada dua orang putri adalah anak kandung Almarhum Prof Noor Sulaiman Andi Khumairah dan Andi zulkhairini bersedia bercerita tentang Aba. Berikut wawancara bersama Anaknya Andi Zuchairiny dan prosesi pemakaman.  
Prestasi dalam Hidupnya
H.M. Noor Sulaiman Pettalongi, kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan, 5 September 1944, adalah Staf Pengajar dan Guru Besar pada STAIN Datokarama Palu dan Prog­ram Pascasarjana IAIN Alauddin dan Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Kelas Palu. Sarjana Muda (BA) diraih di Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ternate (1969), Sarjana S1 di IAIN Sunan Ampel Malang (1974), dan meraih gelar Doktor di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (2000).
Putra dari pasangan A. Sulaiman Pettalongi dan Hj. Chadijah Daeng Massenang ini adalah alumni dari Madrasah Ibtidaiyah dan Mu’allimin Alkhairaat Palu, dan sering mendampingi Sayid Idrus bin Salim Aljufrie “Guru Tua” dalam perjalanan dakwahnya ke berbagai wilayah (1960-1964).
Beberapa jabatan yang pernah diembannya diantaranya adalah Kepala Madrasah Alkhairaat (1966-1968), Kepala Madrasah Mu’allimin (1969-1972), Kepala Madrasah Aliyah Alkhairaat (1974-1977), Kepala PP Alkhairaat di Ternate (1987-1994), Direktur Akademi Bahasa Asing (1981-1982), Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin di Ternate (1988-1994), Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin di Palu (1995-1997), Ketua STAIN Datokarama Palu (1997-2002), dan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Sulawesi Tengah (2002-2004).
Dalam bidang sosial kemasyarakatan, pernah menjabat Wakil Ketua MUI Maluku Utara (1987-1994), Ketua MDI Maluku Utara (1982-1987), Anggota DPRD Kabupaten Maluku Utara (1977-1987), Ketua Dewan Masjid Kabupaten Maluku Utara (1982-1994), Sekretaris Umum MUI Provinsi Sulawesi Tengah (1997-2002). Di Organisasi Alkhairaat, pernah menjabat sebagai  Sekretaris Komwil Alkhairaat Maluku Utara-Irian Jaya (1982-1994), Ketua PB Alkhairaat (1996-2001), dan Sekretaris Dewan Pakar Alkhairaat (2001-2006).
Beberapa karyanya tersebar dalam bentuk buku dan artikel. Di antaranya adalah Biografi Sayid Idrus bin Salim Aljufrie: Pendiri Perguruan Islam Alkhairaat (1988), Alkhairaat dan Perubahan SosialBudaya Masyarakat Kaili (2000), Islam di Tanah Kaili dari Datokarama ke Guru Tua (2004), Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufrie "Guru Tua": Modernisasi Pendidikan dan Dakwah di Tanah Kaili [1930-1969] (2005), Kepemimpinan Perempuan (Telaah Tekstual dan Kontekstual Hadis Nabi dalam Perspektif Gender) (Nopember 2005), Kumpulan Hadis-hadis Pilihan: Tekstual dan Kontekstual (2010), dan juga menterjemahkan buku Al-Âdâb al-Nabawî.
Bersama Keluarganya
Menikah dengan Hj. Fatmah H. Mongki pada tahun 1970 dan dikaruniai empat orang anak Ahmad Fahmi, Muhammad Fadli, Andi Humairah dan Andi Zuchairiny. Aba sebagai orang yang sempurna kalau menurut saya sebagai anaknya ia bagaikan teman,guru sekaligus ayah yang santun bagi  anak-anaknya semenjak masih Hidup biasa shering berkonsultasi bersama dan juga kami jadikan sebagai panutan hidup agar meraih cita-cata untuk masalah pendidikan aba sangat pentigkan pendidikan bagi anak-anaknya sampai kempat buah hatinya. Setelah berpulangnya keharibaan ilahi kami anak-anaknya merasa sangat  kehilangan meniggalkan sekuluarga bahakan juga warga disini merasa kehilangan sosok aba yang mereka kenal sebagai ketua panitia pembangunan masjid jami kampung baru kata Rini.  
Bersama cucu sangat akrab apalagi sore menjelang magrib aba sudah rapi dengan pakaina shalatnya duduk dikursi plastik warna merah sambil membaca koran dan buku sembari menunggu azan magrib tiba, sehabis shalat magrib ia datang kerumah biasanya menonton bareng besama keluarga. hobinya Aba membaca buku diruang kerjanya dan disamping kamarnya ada perpustakaan pribadi miliknya disitu biasanya almarhum aba menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan belajar ujar Rini Mengengnya. Merasa hampa semejak ditinggal tiada lagi canda dan tawa aba menghiasi sudut-sudut rumah semoga almarhum tenang disisinya Amin.
Penyakit Meyerang Tubuhnya
Penyakit aba kata Rini anak terakhir dari empat bersaudara itu menuturkan penyakit yang diderita sang ayah tercintah adalah penyakit vertigo sejenis penyakit mual-mual pusing dirasakan sili berganti hari menemani diwaktu ia bekerja mengajar dan mengurus umat. penyakit menyerang tubuhnya bulan Januari  aba berobat ke makassar dua minggu dari makassar harapan untuk sembuh kian menipis  kondisi aba semakin menurun walaupun tampak dari luar kelihat sehat dan bugar. Seminggu setelah paneyakit semakin membahayakan tubuh Ayah saya merasa tidak bisa berbuat apa-apa disamping pembaringan untuk kesembuhan ayah, yang saya lakukan ketika melihat jenaza  semakin tidak kuasanya sebagai seorang anak melihat ayahnya yang sudah terbujur kaku dipembaringan. Kata Rini dengan nada suaranya yang sedikit bergetar mengenang. 
Pemakaman Jasadnya yang Berjasa
Selasa 13 juni lalu terdengar kabar Guru Besar dan mantan wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku meninggal dunia cuaca mendung memayungi rumah berwarna cat putih bernomor rumah 9 jalan Wahid Hasyim samping penjual kursi kelurahan Kampung Baru seakan tak percaya kampus waktu itu sangat ramai dan sekelompok mahasiswa yang menyukai metode mengajar Pak Prof begitu arif untuk membagi ilmunya turut serta melayat kerumah duka dengan harapan melihat terakhir jasad dan mendoaakan agar mendapatkan tempat yang layak disisinya. Suasan waktu itu orang yang berpakian berwaran putih banyak meghiasi duduk dikursi sembari menunggu sebentar lagi Guru Besar dan sosok yang sangat dikagumi di Sulawesi Tengah akan dimakamkan jasadnya ditempat pemakaman keluarga belakang masjid Jami Kampung Baru. Dari jauh terlihat wanita yang mengenakan jilbab menangis baru tiba dari Luwuk hendak melihat untuk terkhir kalinya dengan diboyong   masuk kedalam rumah duka. Azan ashar berkumandang dimasjid yang ia sering beribadah shalat lima waktu hari itu juga almarhum dishalatkan ruang masjid begitu luas dipadati kerabat, mahasiswa dan warga setempat menyolati jenaza bapak empat orang dan mantan Ketua MUI Sulteng itu. Setelah shalat keranda yang dibungkus kain bertuliskan laailahaillallah itu diangkat hendak menuju pemakaman , sayapun bergegas menuju kebelakang masjid agar bisa lebih dekat melihat sang penulis buku warna kunig judul bukunya Ontologi Ilmu Hadis itu berpulang.  Sampai di tempa itu rupanya pelayat sudah banyak menunggu dari arah timur tempat itu terdengar kalimat lailahailallah denga keras sambil mengagkat kernada menuju tempat pemakaman air mata pelayat mulai terlihat dan duka cita yang begitu dalam sesaat jenazah almarhum dibaringkan. Begitulah rangkain perjlanan prosesi penguburan Jenaza Prof.DR. Noor Sulaiman PL guru besar dan juga Mantan Ketua  STAIN Datokarama Palu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar